Aku menatap lamat-lamat wajahnya.
Penuh kebajikan dan kebijaksanaan.
Membuatku selalu merasa tersanjung apabila berada disampingnya.
Mendengar kisahnya, apalagi keluh kesahnya akibat sifatku.
Tak selalu banyak bicara,tapi aku mengerti maksud tingkahnya.
Aku menapaki jejak-jejak langkahnya.
Aku runuti sejarah hidupnya.
Aku ikuti kemauannya.
Dia selalu ingin aku bahagia dan baik-baik saja.
Tak selalu banyak bertanya,tapi aku tahu harus berbuat apa.
Aku menangis tertahan melihat perjuangannya.
Tanpa mampu membalas sedikitpun apa yang sudah diberi.
Aku begini, karena dia yang selalu ingin keadaannya menjadi begini.
Bahkan mungkin dia ingin lebih dari ini.
Tak selalu banyak kata, tapi segala ekspresinya sudah terlihat gamblang.
Aku menghormatinya selalu.
Aku menjaga kepercayaannya selalu.
Apapun dan bagaimana pun keadaannya.
Apapun dan bagaimana pun dia pernah sekali menyakiti.
Tak selalu banyak menerima, tapi aku tahu dia cukup bangga.
Aku menginyakan semua yang ia jelaskan.
Semua pengertiannya tentang hidup.
Semua pemahamannya tentang masa depan.
Yang baik, atau bahkan lebih baik.
Tak pernah berakibat jelek, apalagi buruk untukku.
Dia terus memperhatikanku.
Hingga sekarang.
Karena pekerjaan rumahnya masih tertinggal. Satu lagi.
Karena aku anak gadisnya yang pertama.
Yang belum menemukan pelabuhan terakhirnya.
Maka, dia terus menceramahiku tentang pasangan hidup sejatinya seperti apa.
Tak pernah membuatku pusing, tapi aku mengerti banyak hal tentang itu.
Satu dua rambut putihnya menyembul.
Membuatnya menjadi tidak muda lagi.
Aku susuri garis-garis keriput yang mulai nampak.
Membuatnya menjadi seorang yang mulai tua sekarang.
Tak pernah banyak mengeluh,tapi aku tahu tubuhnya mungkin sudah mulai renta.
Aku akan menjaganya sekarang.
Seperti dulu,kedua tangannya telah begitu hebat memapahku berjalan.
Aku akanmenjaganya sekarang.
Seperti dulu, kedua kakinya telah banyak menopang tubuhku.
Aku akan menjaganya sekarang.
Seperti dulu,pundaknya sering aku gunakan untuk mengadu dan menangis.
Aku akan menjaganya sekarang.
Seperti dulu,kedua matanya tak pernah letih mengawasiku belajar.
Aku akan menjaganya sekarang.
Seperti dulu,dengan suaranya begitu sabar menjejali rumus matematika yang susah sekali aku cerna.
Aku akan menjaganya sekarang.
Karena ia telah banyak memberi arti dalam pendirianku, dalam pemahamanku, dalam prinsipku, dan dalam makna-makna yang hanya tercermin dalam caraku menyikapi hidup.
AYAHKU SEORANG JAGOAN, Ruang tamu rumah,
April 2011

No comments:
Post a Comment