Sunday, June 12, 2011

CEKER* (1)


Depok, 19 Maret 2011

                Selepas turun dari angkutan kota, aku bergegas menyerahkan uang dua ribuan dan recehan logam lima ratus rupiah.  Uang kumal yang sudah sedari tadi aku genggam, gemas melihat suasana pagi di depan terminal yang demikian padat, dan khawatir sambil berulang kali melirik jam di pergelangan tangan.  Pukul 6 lewat 10 sudah sekarang. Aku berlari-lari kecil menyusuri jalan setapak terminal depok menuju stasiun kereta yang letaknya jauh paling belakang.  Bergegas melewati orang-orang yang masih gontai berjalan, masih belum rela melepaskan diri dari nyamannya kasur empuk.  Menyela gerombolan anak sekolahan yang sedang asyik bercerita.  Pada saat seperti ini, sepatu flat sangat sangat membantuku.  Aku memang salah satu penggemar berat sepatu jenis ini.  Membuat langkahku semakin leluasa bergerak, meninggalkan jejak-jejak kaki dengan begitu
mantapnya.  Sedikit memamerkan atraksi dan jurus menghindar kepada seorang perempuan yang begitu susah payahnya berlari karena mengenakan sepatu berhak lima senti.
                Aku semakin dekat menuju stasiun, terdengar suara operator kereta bergema di sela-sela udara hingga sampai di telingaku.    Hati-hati dijalur satu segera masuk KRL ekonomi AC tujuan Jakarta Kota. Bagi penumpang yang telah memiliki karcis, harap mempersiapkan diri.”  Suara operator tadi bagai sengatan yang membuat langkahku berlari lebih kencang.  Keringat mulai keluar dan membasahi wajah.  Sedikit angin sejuk di pagi hari membuatku sedikit lega, menghapus beberapa titik air yang baru muncul dari pori. Aku sampai di stasiun pas ketika kereta berhenti dan membuka pintu besi yang sejak tadi tertutup rapat otomatis.  Aku menghela napas panjang. “Hari ini aku beruntung.” Gumamku dalan hati. Mantap aku naik ke dalam kereta, menjejalkan tubuhku pada kerumunan laki-laki yang berdiri di depan pintu. Dan aku pun tersenyum. Hampir saja……
                Hawa segar menerpa wajah. Baling-baling kipas angin sibuk berlenggok dan memutar, bergerak searah jarum jam.  Setelah beberapa detik menganga, pintu kereta tertutup kembali tanpa diperintah.  Begitu seterusnya di setiap stasiun.  Kereta mulai bergerak pelan, aku melihat ke arah luar, menuju peron stasiun.  Dan terlihat sosok perempuan yang memakai sepatu berhak tadi, menggumam kesal.  Masih banyak orang yang yang masih asyik duduk di sana, mungkin menunggu kedatangan kereta selanjutnya datang.  Sehabis ini, jadwalnya adalah kereta ekonomi yang akan sampai sekitar pukul setengah tujuh. Aku menggelengkan kepala membayangkan sesaknya suasana di dalam kereta nanti.  Saking penuhnya, banyak orang yang rela bergelantungan di depan kereta, hanya berpijak pada satu kaki, bertumpu pada kekuatan satu tangan, berani menantang maut untuk bisa sampai di tujuan dengan harga karcis yang murah meriah. Ya, kereta ekonomi dengan harga karcis yang hanya dua ribu rupiah, memang masih menjadi idola.  Aku saja tergiur, tapi niat itu selalu urung kulakukan.   
                Kereta ekonomi AC inipun nasibnya juga hampir sama, semakin penuh sesak, karena berhasil menaikkan penumpang dari stasiun depok-pondok cina-UI-UP hingga lenteng agung tanpa bisa menurunkan penumpang di dalamnya.  Alhasil, beginilah suasana kereta, menjadi tidak karuan.  Ada baiknya posisi sesama penumpang itu sejajar. Seperti barisan ketika mau sholat. Beberapa baris menghadap sebelah kiri, dan barisan lain berdiri membelakangi dengan menghadap kanan pintu.  Begitu seharusnya, supaya tertib.  Tetapi ini tidak, ada seorang wanita muda, seumuranku mungkin,  yang berdiri memotong dan dengan tenangnya bersandar pada seorang bapak tua yang dengan susah payah berpegangan.  Tubuhnya yang hampir tua menahan himpitan dan dorongan yang dibawa dengan jelas oleh gadis muda itu.  Adegan yang terjadi tepat di depan hidungku pun sungguh menjadi pemandangan yang miris sekali.  Aku berdehem keras.  Banyak orang menoleh, termasuk  wanita itu.  Aku menggeliat, bergerak sedikit mendorong tubuhnya agar memperbaiki posisi berdiri.  Mata kami bertatapan, lalu aku giring penglihatannya  menuju bapak tua itu. Mencoba menyadarkan rasa empati di dalam dirinya. Sambil menggerutu entah apa, dia berdiri lebih tegak, mencoba berpegangan pada sebatang besi tak jauh dari posisinya.  Aku tersenyum, aku hargai itu.  
                Dorongan laki-laki di sebelahku sontak membuat aku tersadar dari lamunan.  Aku bergeser ke belakang, menuju ke arah yang lebih dalam, mencari tempat yang agak nyaman sehingga tidak perlu berdesak-desakan di mulut pintu.  Setelah mendapat tempat yang aku inginkan, aku bernapas lega.  Aku sudah sampai di stasiun Tanjung Barat.  Setelah ini, stasiun Pasar Minggu akan tiba. Stasiun dimana cukup banyak penumpang yang turun.  Kuceritakan sedikit, stasiun pasar minggu sendiri punya 4 jalur kereta, jalur 1 dan 2 adalah jalur “pulang” dari arah Jakarta Kota-Bogor, sedangkan 2 jalur sisanya adalah jalur Bogor-Jakarta.  Yang paling menggemaskan adalah kita tidak pernah tahu dimana kereta akan parkir., dijalur 3 atau jalur 4. Biasanya, memang pada jam segini penumpang akan terang-terangan mengantri di pintu sebelah kiri, karena kereta akan mendarat mulus di jalur 4.  Yang artinya, kereta ekonomi AC akan disusul oleh kereta kelas atas “ekspress”.  Tapi, kadang ceritanya memang berbeda. Seperti di pagi ini.
                Penumpang yang sudah bersusah payah berebut tempat di depan pintu sebelah kiri, akhirnya hanya bisa mendengus kesal karena kereta ekonomi AC ini secara ajaib ingin juga tampil eksklusif.  Berada di jalur 3.  Aku tersenyum mendengar dan melihat tingkah polah beberapa penumpang menggerutu.  Dan suasana di kereta pun akhirnya riuh oleh berbagai teriakan penumpang yang menyuruh orang-orang di dekat pintu sebelah kanan untuk memberi jalan.
              “Woiiii, permisi, saya mau turun. Haduh, makanya jangan berdiri di depan pintu dong.”  Teriak salah satu bapak yang tak sabar ingin cepat keluar.
              “Aduuuh, Bapak jangan dorong-dorong dong.  Nanti kalau saya jatuh bagaimana?” Sanggah seorang Ibu yang berada tepat di depan Bapak tadi.
Pemuda-pemuda di depan pintu menoleh, melirik ke arah sumbernya suara-suara itu.  Memberi anggukan pengertian kepada teman-teman di sebelahnya. Mengalah untuk turun dari kereta sesaat, agar penumpang dapat turun dengan lebih tenang.  Suatu pemahaman yang banyak sekali maknanya bagiku.  Mengalah, dan memberikan sedikit ruang pada orang lain. Aku pun tersenyum kembali melihat adegan itu seraya berkata dalam hati, aku juga akan bertindak hal yang sama.
                Keributan tadi akhirnya berhenti oleh suara nyaring klakson kereta, yang diikuti oleh pintu yang sudah disulap tertutup dengan sendirinya itu.  Tapi ini belum ada apa-apanya. Dua stasiun dari sini, akan banyak aksi dorong-mendorong, dan berbagai atraksi tarik-menarik yang seru. Ya, di stasiun Cawang dan Tebet memang banyak sekali orang yang turun, hampir setengah beban kereta akan berkurang. Ibu-ibu yang sedari tadi duduk, juga mulai berdiri mempersiapkan diri.  Bergerak kearah pintu keluar, sedikit mendorong penumpang di sebelahnya agar bergeser ke dalam.  Seorang bapak menepuk pundakku, memberi isyarat agar aku melakukan hal yang sama, yaitu bergeser.  Aku menuruti perintahnya, karena kalau tidak tentunya aksi dorong-mendorong yang lebih parah akan terjadi. Dan itu kuhindari. Membuat badanku sakit-sakit sekali setelahnya.
                Kereta mengerem perlahan, pintu dibuka, dan penumpang dua tiga berhamburan keluar. Lucu. Seperti itik yang baru keluar kandang di pagi hari untuk mencari makan. Berjalan cepat menuju seorang portkey yang ada di pintu keluar stasiun.  Berebut untuk cepat sampai di tujuan masing-masing.  Seperti yang kubilang tadi, saat ini suasanan kereta cukup lengang, setelah menumpahkan sebagian isinya.  Aku membetulkan posisi tali tasku yang sedari tadi memang tidak nyaman aku pegang.  Baru sekarang bisa berubah gaya berdiri, dan merapikan kemeja yang sedikit lusuh.  Kereta masih asyik berjalan angkuh di teriknya matahari pagi menuju Manggarai.  Aku menarik napas panjang, setelah ada seorang pemuda yang mempersilahkan duduk, mau bergantian untuk berdiri denganku.  Dan aku hanya bisa mengucap lirih, “Terima kasih.”
                Pukul tujuh kurang sepuluh menit, kereta sampai di stasiun manggarai, salah satu stasiun kereta terbesar pada rute JaBodeTaBek.  Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut gerbong kereta.  Bola mataku sibuk berputar, menyisir setiap penumpang yang sedang asyik membaca Koran, atau tertidur pulas, atau ber-BBMan, atau yang hanya sedang duduk terdiam bengong seperti aku. Hehehehe…. Ternyata aku sangat suka sekali melamun.  Sepuluh menit, kereta ini beristirahat di Manggarai.  Cuek bebek padahal sudah disusul oleh banyaknya kereta kelas ekslusif.  Seakan tidak perduli.  Hanya mendesis dan akhirnya diam lagi.  Cukup lama memang, tapi ya mau bagaimana lagi. Toh, tadi di stasiun pasar minggu kereta ini tidak disusul. Jadi, ya balas dendam itu akhirnya terwujud di stasiun ini.  Membuat sebagian penumpang sedikit gusar, dan akhirnya hanya mampu berdamai pada waktu.  Jam tujuh teng, pintu kereta tertutup, menandakan siap untuk melintas kembali pada sebatang besi rel.  
                Aku puaskan untuk menyandarkan punggungku pada empuknya busa tempat duduk.  Menikmati semilir angin yang dihasilkan dari hembusan  baling-baling plastik. Aku menengadah, memperhatikan pemuda yang sudah memberikanku duduk.  Dia sedang bersiap untuk turun, mungkin di stasiun Gondangdia, satu stasiun sebelum stasiun tujuanku, yaitu Juanda.  Dia menoleh ke arahku, dan aku pun refleks tersenyum. Sebagai ungkapan terima kasih saja. Dan dia pun membalas dengan senyuman juga.  Manis sekali…. “Pagi hari yang begitu indah” Gumamku dalam hati sambil memperhatikan punggungnya yang berjalan menjauhiku.
                Stasiun Gambir dilewati mantap oleh benda besi ini.  Meninggalkan sosok-sosok orang yang menatap kami dari peron stasiun. Untuk kereta ekonomi, baik AC maupun yang biasa, memang tidak ada kewajiban untuk berhenti di stasiun Gambir.  Stasiun ini hanya sibuk menaikkan dan menurunkan penumpang kelas ekslusif dan yang ingin mudik, pulang kampung.  Aku berdiri, bersiap turun. Aku menjejerkan tubuhku pada barisan depan dekat pintu.  Dan sekarang aku sedang sibuk memperhatikan daun pintu kereta. Karena telah berhasil memantulkan bayanganku dengan begitu jelasnya.  Hal yang paling susah untuk dihindari wanita kebanyakan, yaitu bercermin.  Aku tersenyum senang.  

* Ceker = cerita kereta 

Sunday, April 24, 2011

karena cinta

 Jari jemari menggenggam.
Tak ada yang dapat ditangkap. Bahkan angin yang bergerak perlahan.
Seakan enggan berempati.
Kosong, tak ada yang bisa diraih.
Hampa, tak ada yang menyambut.
Sekalipun dengan sekuat tenaga berusaha.

Gigi gemeretak gemetar.
Kedinginan. Padahal tidak hujan, apalagi salju.
Menjadi seakan acuh tak acuh.

Senyum merekah simpul.
Tak ada yang dapat dicerna. Bahkan lelucon tak cukup mampu membuat tawa meledak.
Seakan enggan bersimpati.
Hambar, tak ada yang bisa dirasa.
Getir, tak ada yang menghampiri.
Sekalipun dengan sepenuh hati berusaha.

Karena cinta tak akan datang sekarang.                                                     
Karena cinta sudah memilih, kepada siapa dan kapan waktunya.
Karena cinta tidak bisa tiba-tiba datang.
Karena cinta perlu biaya untuk sampai, kepada siapa yang dimau.
Karena cinta selalu penuh misteri.
Karena cinta sudah terlanjur memiliki arti hakiki.

kesadaran jiwa


Aku menengadah ke atas langit.
Membiarkan bola mataku bergerak liar, berputar-putar.
Menghidupkan imaji yang seakan terus mendesak ke luar.
Merelakan janji yang belum sempat aku bagi.
Dengan siapa pun di muka bumi.

Aku menatap kosong  hamparan sawah menghijau.
Membiarkan diri masuk dan merasuk ke dalam sendi-sendi padi.
Menghidupkan asa yang selalu saja mencoba menjadi nyata.
Menegaskan karya yang belum sempat aku jamah.
Dengan apa saja di muka bumi.

Mataku menerjang kedalam rimbunan pohon.
Menggeliat melalui sela-sela dahan.
Menekuri butiran-butiran air di ujung daun.
Menggerayangi kulit pohon yang sebagian mengelupas.
Kembali menghidupkan pikiran akan kokohnya arti sebuah kerja keras.
Meyakinkan mimpi bahwa ini belum usai.
Dengan bagaimana pun cara yang ada di muka bumi.

Aku memandang kerlipnya bintang malam.
Tanpa kata. Tanpa suara.
Hanya desah nafas yang terdengar satu dua.
Merekatkan potongan-potongan kisah yang berserakan.
Menghidupkan masa depan yang mungkin akan berjalan jauh lebih baik.
Hingga membuat luapan semangat kembali terpompa.
Menjanjikan kehidupan yang mekar,bebas, tapi tetap terpagari.

Aku mengamati kepakan sayap kutilang yang melintas.
Naik turun, berjuang terbang untuk mencari makan.
Kadang sendiri, tetapi lebih sering bersama kelompok.
Meniupkan berbagai macam harapan.
Melipurkan gundah yang seharusnya memang tak ada.
Karena semua jiwa ada jatahnya.  Karena semua usaha ada bayarannya. 
Karena jalan selalu ada.
Kesempatan selalu terbuka.
Asal kita mau. Asal kita ingin.

                                                                                          di dalam kamar, April 2011

Sunday, April 17, 2011

My lovely father


Aku menatap lamat-lamat wajahnya.
Penuh kebajikan dan kebijaksanaan.
Membuatku selalu merasa tersanjung apabila berada disampingnya.
Mendengar kisahnya, apalagi keluh kesahnya akibat sifatku.
Tak selalu banyak bicara,tapi aku mengerti maksud tingkahnya.

Aku menapaki jejak-jejak langkahnya.
Aku runuti sejarah hidupnya.
Aku ikuti kemauannya.
Dia selalu ingin aku bahagia dan baik-baik saja.
Tak selalu banyak bertanya,tapi aku tahu harus berbuat apa.

Aku menangis tertahan melihat perjuangannya.
Tanpa mampu membalas sedikitpun apa yang sudah diberi.
Aku begini, karena dia yang selalu ingin keadaannya menjadi begini.
Bahkan mungkin dia ingin lebih dari ini.
 Tak selalu banyak kata, tapi segala ekspresinya sudah terlihat gamblang.

Aku menghormatinya selalu.
Aku menjaga kepercayaannya selalu.
Apapun dan bagaimana pun keadaannya.
Apapun dan bagaimana pun dia pernah sekali menyakiti.
Tak selalu banyak menerima, tapi aku tahu dia cukup bangga.


Aku menginyakan semua yang ia jelaskan.
Semua pengertiannya tentang hidup.
Semua pemahamannya tentang masa depan.
Yang baik, atau bahkan lebih baik.
Tak pernah berakibat jelek, apalagi buruk untukku.

Dia terus memperhatikanku.
Hingga sekarang.
Karena pekerjaan rumahnya masih tertinggal. Satu lagi.
Karena aku anak gadisnya yang pertama.
Yang belum menemukan pelabuhan terakhirnya.
Maka, dia terus menceramahiku tentang pasangan hidup sejatinya seperti apa.
Tak pernah membuatku pusing, tapi aku mengerti banyak hal tentang itu.

Satu dua rambut putihnya menyembul.
Membuatnya menjadi tidak muda lagi.
Aku susuri garis-garis keriput yang mulai nampak.
Membuatnya menjadi seorang yang mulai tua sekarang.
Tak pernah banyak mengeluh,tapi aku tahu tubuhnya mungkin sudah mulai renta.

Aku akan menjaganya sekarang.
Seperti dulu,kedua tangannya telah begitu hebat memapahku berjalan.
Aku akanmenjaganya sekarang.
Seperti dulu, kedua kakinya telah banyak menopang tubuhku.
Aku akan menjaganya sekarang.
Seperti dulu,pundaknya sering aku gunakan untuk mengadu dan menangis.
Aku akan menjaganya sekarang.
Seperti dulu,kedua matanya tak pernah letih mengawasiku belajar.
Aku akan menjaganya sekarang.
Seperti dulu,dengan suaranya begitu sabar menjejali rumus matematika yang susah sekali aku cerna.
Aku akan menjaganya sekarang.
Karena ia telah banyak memberi arti dalam pendirianku, dalam pemahamanku, dalam prinsipku, dan dalam makna-makna yang hanya tercermin dalam caraku menyikapi hidup.

                                                                                                AYAHKU SEORANG JAGOAN, Ruang tamu rumah, 
 April 2011

Friday, April 15, 2011

16th

Sendiri di halte, 2011
Segala apa yang aku rasa belum cukup menerjemahkan apa yang ada
Waktu terus saja bergerak, meninggalkan jejak-jejak kaki yang berjalan melemah dan hanya menapaki gontai…
Meluluhkan angan, asa, dan harapan yang sama sekali belum terjamah untuk digapai
Terbuai dan akhirnya bergelung menjadi sebongkah kenyataan

15th

Senja di Stasiun Juanda, 2011

Kata orang, hidup harus selalu dinikmati
Seperti kumbang yang menyukai madu, seperti bumi yang butuh matahari, seperti sawah yang berharap pada hujan, seperti semut yang mengerumuni sebongkah gula
 seperti air mengalir dan berjalan terus tak tentu arah, semau yang diingin…
Walau kadang cerahnya pagi harus terbentur hujan,
Walau sering terangnya bulan tertutup gelapnya malam, awan hitam dan menjadi kelam…
Walau itu yang dirasa…
Walau itu yang sangat terasa…
Tetap teguh pada keyakinan, penuh semangat seperti bendera
Walau angin kencang berhembus, tetap tegak dan terus berkibar…

14th

Perempuan, 2010
Perempuan bukan sebuah objek
Perempuan adalah subjek
Jika kau bertanya tentang perempuan, jangan tanyakan pada logika…
Perempuan sedikit dimengerti olehnya
Hanya perasaan yang mampu menjawab seperti apa perempuan kebanyakan
Jangan pula tanyakan pada bulan matahari, bulan atau bintang…
Tapi coba kau merenung di tepi sungai, laut atau pada apapun yang mengalir
Karena perempuan tak mampu menunggu lama
Karena perempuan tak mampu sendiri
Perempuan harus bersandar…
Kesendirian perempuan bagai batang tanpa daun, tanpa bunga
Merasa diri tak berarti dan tak mempunyai arti…