Tembok ini sudah usang, telah lama dibiarkan tanpa ada lagi yang merawatnya
Tapi nyatanya sekarang aku tahu apa gunanya
Ironis memag, ternyata pada tembok tua yang lapuk ini aku sandarkan, rela untuk menopang berat tubuhku dan semua kerumitan yang menggelayut
Tanpa ada kata mengeluh, ia tetap tegak… Tanpa bergeser sesentipun, ia tetap kokoh
Ia rela mendengar isak tangisku… Ia sabar menunggu hingga jeritan hatiku tak terdengar lagi
Ia mampu seperti itu, melihatku, berada di sampingku terus, hingga akhirnya aku lelah dan tertidur
Tembok ini hanya saksi bisu
Dimana aku sangat menantikan seseorang yang punya peran seperti itu
Tapi tak ada yang datang
Aku coba berontak, tapi tak kuasa
Aku coba melawan, tapi tak mampu
Maka biarkan ini terjadi seperti apa adanya dan biarkan banyak hal terungkap tanpa kita sadari
Aku menunggu hari itu… Mencoba membujuk hati agar sedikit saja bersabar hingga bisa memutuskan hal yang tepat pada waktu yang tepat pula…
No comments:
Post a Comment